MAKALAH
“menciptakan
nilai kepuasan, dan loyalitas pelanggan, serta menganalisis pasar konsumen”
![]() |
Oleh:
Taufiqurrohman r
Moh latif
Siti rahmah
UNIVERSITAS
ISLAM MADURA
(UIM)
PAMEKASAN
MADURA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena hanya berkat Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah dalam mata kuliah menejemen pemasaran, ini.Makalah ini dapat
terselesaikan dengan judul “MENCIPTAKAN NILAI KEPUASAN DAN LOYALITAS
PELANGGAN, SERTA MENGANALISIS PASAR KONSUMEN”.
Dalam menyusun
makalah ini, kami banyak mendapatkan bantuan serta dukungan dari
berbagai pihak. Maka dengan penuh kerendahan hati, kami mengucapkan banyak
terima kasih kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak
terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan sehingga perlu dibenahi.
Oleh karena itu, penulis sangat mengharapakan kritik serta saran yang sifatnya
membangun guna kesempurnaan makalah ini, agar makalah ini dapat berguna serta
bermanfaat bagi pengembangan wawasan yang dinamis. Akhir kata, penulis berharap
makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan kami pada
khususnya.
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Dewasa ini , perusahaan menghadapi
persaingan yang paling hebat, meskipun demikian, dengan beralih dari filosofi
produk dan penjualan yang lebih baik untuk memenangkan persaingan. Dasar dari orientasi pemasaran yang dibentuk
dengan baik ada hubungan pelanggan yang kuat.
Pemasar harus berhubungan dengan
mereka berproses dalam menciptakan nilai tambah, bahkan menikmati produknya,
serta menjadi pelanggan yang loyal. Pemasar berkewajiban mengimpormasikan,
melibatkan diri bahkan mendorong mereka dengan baik ketika ia menyarangkan
untuk membuat pelanggan menjadi pusat
budaya perusahaan, karena perusahaan
yang berpusat pada pelanggan mempunyai keahlian
dalam membangun hubungan pelanggan, bukan hanya produk, tetapi mempunyai
kemampuan atau keahlian dalam rekayasa pasar. Pemasar yang berhasil adalah
pemasar yang secara total memuaskan pelanggan dengan menguntungkan. Pemasar
harus dapat mengetahui, memahami serta dapat memcari jalan keluar terhadap
kesulitan atau ketidak tauan dalam mendapatkan akses informasi serta dinamika
informasi sehingga konsumen dapat memutuskan untuk membeli produk serta dari
pengalaman dan apa yang di dapat dari karakteristik dari produk itu
menjadikannya puas dan kembali membeli bahkan menjadi pelanngan yang loyal.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana
cara membangun nilai, kepuasan dan loyalitas pelanggan?.
2. Bagaimana
memaksimalkan nilai serta mengembangkan hubungan pelanggan
C. TUJUAN PEMBAHASAN
1.
Untuk mengetahui
bagaimana membangun nilai, kepuasan dan loyalitas pelanggan
2.
Untuk mengetahui
bagaimana cara mengembangkan hubungan pelanggan.
BAB
II
PEMBAHASAN I
Menciptakn nilai kepuasan dan loyalitas pelanggan
A.
MEMBANGUN NILAI, KEPUASAN, DAN LOYALITAS
Menciptakan pelanggan yang loyal adalah
inti dari setiap bisnis. Berikut pernyataan ahli pemasaran Don Pepers dan
Martha Rogers. Satu-satunya nilai yang dapat diciptakan perusahan anda adalah
nilai yang berasal dari pelanggan itu adalah semua nilai yang anda miliki
sekarang dan nilai yang akan anda miliki dimasa depan. Suatu bisnis disebut
sukses jika berhasil mendapatkan, mempertahankan, dan menumbuhkan pelanggan.
Pelanggan merupakan satu-satunya alasan perusahaan membangun pabrik,
mempekerjakan karyawan, menjadwalkan rapat, membuat jalur serat optik, atau
melibatkan diri dalam aktivitas bisnis apapun.
Manajer yang meyakini bahwa pelanggan
satu-satunya “pusat laba” sejati perusahaan menganggap bahwa diagram organisasi
tradisional dalam peraga sebuah piramid dengan presiden berada pada puncaknya,
manajemen ditengah, dan orang-orang garis depan serta pelanggan bagian bawah
sudah ketinggalan zaman.
Beberapa
perusahan didirikan dengan model bisnis dimana pelanggan ditempatkan diatas,
dan advokasi pelanggan memjadi strategi mereka dan juga keunggulan kompetitif
mereka. Dengan kemunculan teknologi digital sepgerti internet, konsumen yang
semakin pandai dewasa ini mengharapkan perusahaan melakukan lebih banyak hal
daripada sekedar berhubungan dengan mereka, lebih dari sekedar memuaskan
mereka, bahkan lebih dari menyenagkan mereka.
1.
Nilai yang
dipersepsikan pelanggan
Dewasa ini konsumen
lebih terdidik dan lebih berpengetahuan. Mereka mempunyai sarana (misalnya
internet) untuk menverifikasi klaim
perusahaan dan mencari alternatif yang
lebih unggul. Nilai yang dipersepsikan pelanggan (CPV- Customer perceived
value) adalah selisih antara penilaian pelanggan prospektif atas semua manfaat
dan biaya dari suatu penawaran terhadap altenatifnya. Maka nilai yang
dipersepsikan pelanggan didasarkan pada selisih antara apa yang didapatkan
pelanggan dan apa yang ia berikan utnuk kemungkinan pilihan yang berbeda.
Pelanggan mendapatkan manfaat dan menagguang biaya. Pemasar dapat meningkatkan
nilai penawaran pelanggan melalui beberapa kombinasi peningkatan maanfaat
ekonomi, fungsional, emosional dan atau mengurangi satu jenis biaya atau lebih.
2.
Total kepuasan
pelanggan
Apakah pembeli
terpuaskan setelah membeli tergantung pada kinerja penawaran dalam hubungannya
dengan ekspektasi pembeli, dan apakah pembeli menginterpretasikan adanya
penyimpanan antara keduanya. Secara umum, kepuasan adalah perasaan senang atau
kecewa seseorang yang timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan
produk terhadap ekspektasi mereka. Jika kinerja gagal memenuhi ekpektasi,
pelanggan akan tidak puas. Jika kinerja sesuai dengan ekpektasi, pelanggan akan
puas. Jika kinerja melebihi ekpektasi, pelanggan akan sangat puas atau senang.
3.
Mengamati kepuasan
Banyak
perusahaan secara sistematis mengukur seberapa baik mereka memperlakukan
pelanggan mereka, mengenai faktor-faktor yang membentuk kepuasan, dan melakukan
perubahan dalam operasi dan pemasaran mereka sebagai akibatnya. Sebagai contoh
Wachovia Securities mempekerjakan pembelanja misterius untuk nilai seberapa
baik karayawan memuaskan pelanggan, menghubungkan sebagian kompensasi karyawan
dengan peringkat mereka. Penekanan pada layanan pelanggan ini tampak berhasil.
sebuah studi riset yang dilakukan Brand Keys sepanjang kuartal pertama 2006
menumukan bahwa Wachovia melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam memenuhi
ekspektasi pelanggan setianya dibandingkan yang lain.
Teknik
Pengukuran Ada sejumlah metode untuk mengukur kepuasan pelanggan. Survei
berkala dapat melacak kepuasan pelanggan secara langsung dan juga mengajukan
pertanyaan tambahan untuk mengukur niat pembelian kembali dan kemungkinan atau
kesedian responden merekomendasikan suatu perusahaan dan merek kepada orang
lain.
Pengaruh
kepuasan pelanggan Bagi perusahaan yang berpusat pada pelanggan, kepuasan
pelanggan merupakan tujuan dan sarana pemasaran. Dewasa ini perusahaan harus
lebih baik memeprhatikan tingkat kepuasan pelanggannya karena internet
menyediakan sarana bagi konsumen untuk menyebarkan berita buruk dengan cepat
dan juga berita baik keseluruh dunia.
Keluhan
pelanggan beberapa perusahan berpikir bahwa cara memeprhatikan kepuasan
pelanggan adalah dengan mencatat keluhan, tetapi studi ketikpuasan pelanggan
memperlihatkan bahwa walau pelanggan yang tidak puas dengan pembelian mereka
berkisar 25%, hanya sekitar 5% yang mengajukan keluhan. 95% lainnya yang merasa
bahwa menyampaikan keluhan tidak sebanding dengan usahanya, atau mereka tidak
tahu bagaimana atau kepada siapa mereka harus menampaikan keluhan itu, dan mereka berhenti membeli.
Mengingat
besarnya dampak buruk dari pelanggang yang tidak puas, penting bagi pemasar
untuk menangani pengalaman negatif dengan pengalaman. Diluar itu, prosedur
berikut dapat membantu memulihkan itikad baik pelanggan.
(a) Membuka
hotline gratis 7 hari, 24 jam, (lewat telepon, faks, atau e-mail) untuk
menerima dan menindaklanjuti keluhan pelanggan.
(b) Menghubungi
pelanggan yang menyampaikan keluhan secepat mungkin. Semakin lambat respon
perusahaan, semakin besarlah ketidakpuasan yang akan menimbulkan berita
negatif.
(c) Menerima
tanggung jawab atas kekecewaan pelanggan : jangan menyalahkan pelanggan.
(d) Mempekerjakan
orang layanan pelanggan yang memiliki empati.
(e) Menyelesaikan
keluhan dengan cepat dan mengusahakan kepuasan pelanggan. Sebagian pelanggan
yang menyampaikan keluhan sesungguhnya tidaka meminta kompensasi yang besar
sebagai tanda bahwa perusahaan peduli.
4.
Kualitas produk dan
jasa
Kepuasan
juga tergantung pada kepuasan produk dan jasa. Apa sebenarnya kualitas itu?
berbagai ahli mendefenisikan sebagai “kecontohan untuk digunakan” “pemenuhan tuntutan” bebas dari variasi dan
seterusnya. Kita akan menggunakan defenisi American Society for Quality Control
: Kulaitas adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang
bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau
tersirat. Ini jelas merupakan definisi yang berpusat pada pelanggan. Kita dapat
mengatakan bahwa penjual telah menghantarkan kualitas ketika produk atau jasa yang memenuhi atau
melebhi ekpektasi pelanggan. Perusahaan yang memuaskan sebagian kebutuhan
pelanggannya sepanjang waktu disebut perusahaan berkualitas, tetapi kita harus
membedakan antar kesesuain kualitas dan kinerja (atau tingkat) kualitas.
Pengaruh
kualitas kuliatas produk dan jasa, kepuasan pelnggan, profibilitas perusahaan
adalah taga hal yang terkait erat. Semakin tinggi pula tingkat kualitas,
semakin tinggi tingkat kepuasan pelanggan yang dihasilkan, yang mendukung harga
yang lebih tinggi dan biaya yang lebih rendah. Studi telah memperlihat korelasi
yang tinggi antara kualitas produk relatif dan profitabilitas perusahaan.
Kualitas
total kualitas total adalah tugas semua orang, seperti halnya pemasaran.
Pemasar memainkan beberapa peran dalam membantu perusahaan mereka
mendefenisikan dan menghantarkan barang dan jasa berkualitas tinggi kepada
pelanggan sasaran. Pertama mereka mengemban tanggung jawab utama untuk
mengidentifikasi kebutuhan persyaratan pelanggan dengan benar. Kedua, mereka harus
mengkomunikasikan ekspektasi pelanggan dengan tepat kepada perancang
produk. Ketiga, mreka harus memastikan
bahwa pesanan pelanggan dipenuhi dengan tepat dan sesuai jadwal. Keempat,
mereka harus memeriksa bahwa pelanggan menerima intruksi yang benar, pelatihan,
dan bantuan teknis dalam penggunaan produk. Kelima, mereka harus tetap
berhubungan dengan pelanggan setelah penjualan untuk memastikan bahwa mereka
puas dan tetap puas. Keenam, mereka harus mengumpulkan ide pelanggan tentang
perbaikan produk dan jasa yang menyalurkan ide-ide tersebut kedepartemen yang
tepat.
B. MEMAKSIMALKAN
NILAI SEUMUR HIDUP
Pada akhirnya, pemasaran adalah seni menarik
dan mempertahankan pelanggan yang menguntugkan. Tetapi semua perusahaan
kehilangan uang untuk pelanggannya. Aturan pareto yang terkenal 20-80
mengatakan bahwa 20% pelanggan teratas sering menghasilkan 80% atau lebih laba
perusahaan.Pelanggan terbesar perusahaan tidak selalu menghasilkan laba
tertinggi. Pelanggan terbesar bisa menuntuk layanan yang baik dan mendapatkan
diskon terbesar.
Pelanggan
terkecil membayar harga penuh dan mendapatkan layanan minimal, tetapi biaya
bertransaksi dengan mereka dapat mengurangi profitabilitas mereka. Pelanggan
menengah menerima layanan bagus dan membayar harga hampir penuh sering kali
paling menguntungkan.
1)
Profitabilitas
pelanggan
Apa
yang membuat seorang pelanggan disebut pelanggan yang menguntungkan? Pelanggan
yang menguntungkan adalah orang, rumah tangga, atau perusahaan yang sepanjang
waktu menghasilkan aliran pendapatan yang melebihi jumlah aliran biaya
perusahaan yang dapat ditoleransi untuk menarik, menjual, dan melayani
pelanggan tersebut. Ingat bahwa penekanannya adalah pada aliran pendapatan dan
biaya seumur hidup, bukan pada laba transaksi tertentu. Pemasar dapat menilai
profitabilitas pelanggan secara induvidual.
Analisis
profitabilitas pelanggan Perusahaan memperkirakan semua pendapatan yang
didapatkan dari pelanggan, dikurangi
semua biaya. Biaya tidak hanya mencakup biaya pembuatan dan pendistribusian
produk dan jasa, namun mencakup penerimaan panggilan telepon dari pelanggan,
bepergian mengunjungi pelanggan, pembayaran hiburan dan hadiah. Semua sumber
daya perusahaan untuk melayani pelanggan itu.
Portofolio pelanggan
Pemasar mengkui adanya kebutuhan untuk mengelolah fortofolio yang terdiri dari
berbagai kelompok pelanggan yang didefinisikan berdasarkan loyalitas, profibilitas,
dan faktor lain.
2)
Mengukur nilai seumur
hidup pelanggan
Nilai
seumur hidup menggambarkan nilai sekarang bersih dari aliran laba masa depan
yang diharapkan sepanjang pembelian seumur hidup pelanggan. Perusahaan harus
mengurangkan dari biaya yang diharapkan untuk menarik, menjual dan melayani
akun pelanggan tersebut dari pendapatan yang diharapkan dengan menerapkan
tingkat diskon yang tepat ( misalnya antara 10% dan 20% tergantung pada biaya
modal dan hakikat risiko).
C. MENGEMBANGKAN HUBUNGAN PELANGGAN
Memaksimalkan
nilai pelanggan berarti mengembangkan hubungan pelanggan untuk jangka panjang.
Dewasa ini perusahaan telah meningkatkan pemasaran massal yang tidak efesien
dan beralih ke pemasaran presesi yang dirancang untuk membangun hubungan
pelanggan yang kuat. Ekonomi saat ini didukung oleh bisnis informasi. Informasi
itu sendiri mempunyai kelebihan dalam hal mudah dedeferensiasikan, disesuaikan,
dipersoalkan, dan dikirimkan sepanjang jaringan dengan kecepatan yang
mengagumkan.
Pemberdayaan pelanggan menjadi cara hidup
bagi banyak perusahaan yang harus menyesuaikan diri dengan peralihan kekuasaan
dalam hubungan pelanggan mereka. “Tinjauan pemasaran : respon perusahaan
terhadap pemberdayaan pelanggan” menggambarkan beberapa perubahan yang dibuat
perusahaan dalam praktik pemasaran mereka sebagai hasilnya.
a)
Manajemen hubungan
pelanggan
Manajemen
hubungan pelanggan (CRM-Custemer Relationship Management) adalah proses
pengelola informasi rinci tentang pelanggan perorangan dan semua “titik kontak”
pelanggan secara seksama untuk memaksimalkan loyalitas pelanggan. CRM penting
karena pedorong utama profitabilitas perusahaan adalah nilai kolektif basis
pelanggan perusahaan.
Titik
kontak pelanggan adalah semua kejadian di mana pelangan menghadapi merek dan
produk dari pengalaman aktual ke komunikasi pribadi atau massal hingga observsi
biasa. Terkadang titik kontak adalah tempat yang paling tidak anda duga.
Pemasaran
Satu-Satu Beberapa dasar manajemen hubungan pelanggan diletakkan oleh Don
Peppers dan Martha Rogers. Peppers dan Rogers menggarisbawahi kerangka kerja
empat langkah untuk pemasaran satu0satu yang diterapkan ke pemasaran CRM
sebagai berikut :
(1)
Mengidentifikasi
prospek dan pelanggan Anda
(2)
Mengidentifikasikan
pelanggan berdasarkan kebutuhan meraka dan nilai mereka terhadap perusahaan
Anda.
(3)
Berinteraksi dengan
pelanggan perorang untuk meningkatkan pengetahuan Anda tentang kebutuhan
perorangan mereka dan membangun hubungan yang lebih kuat.
(4) Memodifikasi
produk, layanan, dan pesan kepada setiap pelanggan.
Meningkatkan Nilai Basis Pelanggan
Pendorong utama nilai pemegang saham adalah nilai agrerat dari basis pelanggan.
Perusahaan top meningkatkan nilai basis pelanggan mereka dengan melaksanakan
strategi berikut ini dengan baik.
(1)
Mengurangi tingkat
keberalihan pelanggan.
(2)
Meningkatkan daya tahan
hubungan pelanggan.
(3)
Meningkatkan potensi
pertumbuhan setiap pelanggan melalui “pangsa dompet (share of wallet)”,
penjualan silang (cross selling), dan penjualan ke atas (up selling).
(4)
Membuat pelanggan
berlaba rendah lebih menguntungkan atau menghilangkan mereka.
(5) Memfokuskan
usaha yang tidak seimbang untuk pelanggan yang bernilai tinggi.
b)
Menarik Dan
Mempertahankan Pelanggan
Perusahaan
yang berusaha memperbesar laba harus menghabiskan cukup banyak waktu dan sumber
daya untuk mencari pelangan baru. Untuk mendapatkan petunjuk lalnjutan, mereka
mengembangkan iklan dan menempatkan iklan tersebut di media yang akan
menjangkau prospek baru.
Mengurangi
Keberalihan Untuk mengurangi tingkat keberalihan perusahaan harus :
(1)
Mendefinisikan dan
mengukur tingkat retensinya.
(2)
Membedakan peyebab
“erosi” pelanggan dan mengidentifikasi pelanggan yang dapat dikekolah dengan
baik.
(3)
Membandingkan
kehilangan laba yang dikalikan dengan nilai seumur hidup pelanggan dari
pelanggan hilang tehadap biaya untuk mengurangi tingkat kebralihan.
Dinamika Retensi Berikut ini sejumlah
fakta menarik yang mendukung retensi pelanggan :
(1)
Mengakuisisi pelanggan
baru dapat menelan biaya lima kali lipat lebih besar dibandingkan memuaskan dan
mempertahankan pelanggan lama.
(2)
Rata-rata perusahaan
kehilangan 10 % pelanggannya tiap tahun.
(3)
Pengurangan 5% dalam
tingkat keberalihan pelanggan dapat meningkatkan laba sebesar 25% sampai 85% tergantung pada apa industrinya.
(4) Tingkat
laba pelanggan cenderung meningkat sepanjang umur pelanggan yang dipertahankan
akibat adanya peningkatan pembelian, retensi, dan premi harga serta
berkurangnya biaya operasi untuk melayani.
c)
Membangun Loyalitas
Sekelompok
peneliti melihat kegiatan membangun retensi dengan menambah manfaat keuangan,
manfaat sosial, atau ikatan struktural. Subbab berikut menjelaskan empat jenis
kegiatan pemasaran yang penting yang digunakan parusahaan untuk meningkatka
loyalitas dan retensi’
Berinterksi
Dengan Pelanggan Mendenarkan pelanggan merupakan hal penting dalam manajemen
hubungan pelanggan. Penting pula untuk menjadi advokat pelanggan, dan sebisa
mungkin memandang masalah dari sisi pelanggan, memahami sudut pandang mereka.
Mengembangkan
Program Loyalitas Dua program loyalitas pelanggan yang dapat ditawarkan
perusahaan adalah program frekuensi dan program pemasaran klub. Program
Frekunsi dirancang untuk memberikan penghargaan kepada pelanggan yang sering
membeli dan dalam jumlah besar. Program keanggotaan klub bisa terbuka bagi
semua orang yang membeli prosuk atau jasa, atau hanya terbatas bagi kelompok
yang berminat atau mereka yang bersedia membayar sejumlah kecil iuran.
Mempersonalisasikan
Pemasaran Personel perusahaan dapat menciptakan ikatan yang kuat dengan
pelanggan melalui pengindividuan da personalisasi hubungan. Intinya, perusahaan
yang cerdas mengubah pelanggan mereka menjadi klien.
Menciptakan
Ikatan Institusional Perusahaan dapat memasok pelangan dengan peralatan khusus
atau hubungan komputer y ng membantu pelanggan pengelola pesanan, penggajian
dan persediaan.
d)
Memenangkan Kembali
Mengaktifkan
kembali pelanggan yang tidak puas melalui pemenangan kembali. Menganalisa
penyebab keberalihan elanggan melalui wawancara pada saat pelanggan itu keluard
dan survei pelanggan yang hilang, serta hanya memenangkan kembali mereka yang
mempunyai potensi laba kuat adalah kunci
menarik mantan pelanggan.
D. DATABASE
PELANGGAN DAN PEMASARAN DATABASE
Pemasar
harus mengetahui pelanggan mereka. Untuk mengetahui pelanggan, perusahaan harus
mengumpulkan informasi dan menyimpannya dalam database yang dapat digunakan
dalam melaksanakan pemasaran database. Database pelanggan adalah kumpulan
informasi komprehensif yang terorganisasi tentang pelanggan perorangan atau
prospek terkini, yang dapat diakses dan dapat ditindak lanjuti untuk tujuan
pemasaran seperti mengembangkan arahan, arahan kualifikasi, penjualan produk
atau jasa, atau atau memelihara hubungan pelanggan.
1.
Database Pelanggan
Database
pelanggan (costumer database) adalah kumpulan informasi konfrehensif yang
terorganisasi tentang pelanggan perorangan atau prospek terkini, yang dapat
diakses dan dapat ditindaklanjuti untuk tujuan pemasaran.
2.
Gudang Data dan
Penggalian Data
Data
yang dikumpulakan oleh pusat hubungan perusahaan diatur dalam gudang data di
mana pemasar dapat menangkap, menanyakan dan menganalisisnya untuk menarik
kesimpulan tentang kebutuhan dan respon pelanggan perorangan. Melalui
penggalian data, ahli statistik pemasaran dapat menarik informasi yang berguna
tentang individu, tren, dan sekmen dari kumpulan data.
3.
Kelemahan Pemasarbuan
Database dan CRM
Ada
empat masalah yang dapat mencegah perusahaan untuk menggunakan CRM secara
efektif.
(a)
Proses pembangunan dan
mempertahankan database pelanggan memerlukan investasi besar dalam poranti
keras komputer, piranti lunak database, program analitis, hubungan komunikasi,
dan personil ahli.
(b)
Sulitnya membuat semua
orang dalam perusahaan agar berorintsi pada pelanggan dan menggunakan informasi
yang tersedia.
(c)
Tidak semua pelanggan
menginginkan hubungan dengan perusahaan, dan mereka mungkin tidak suka
mengetahui bahwa perusahaan telah mengumpulkan begitu banyak informasi pribadi
tentang mereka.
(d)
Asumsi di belakang
CRM mungkin tidak selalu benar.
BAB III
PEMBAHASAN II
menganalisis pasar konsumen
1. Apa Yang Memengaruhi Perilaku Konsumen
Pemasaran harus sepenuhnya memahami teori maupun realitas
perilaku konsumen. Perilaku pembeli konsumen di pengaruhi oleh faktor-faktor
sebagai berikut.
a. Faktor budaya
Faktor budaya mempunyai pengaruh yang paling luas dan
mendalam terhadap prilaku konsumen. Masing-masing budaya terdiri
dari, Kultur (Kebudayaan) adalah determinan paling
fundamental dari keninginan dan perilaku seseorang. Subkultur,
setiap kultur terdiri dari subkultur yang lebih kecil yang memberikan
identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik bagi para anggotanya.
Subkultur mencakup kebangsaan, agama, kelompok ras, dan daerah geografis.
Banyak subkultur memberikan segmen pasar yang penting, dan para pemasar
kerapkali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan
kebutuhan mereka.
b. Faktor sosial.
Selain faktor budaya, prilaku konsumen dipengaruhi oleh
faktor-faktor sosial, seperti kelompok acuan. Kelompok acuan
seseorang terdiri dari semua kelompok yang mempunyai pengaruh langsung (tatap
muka) atau pengaruh tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang.
Kelompok yang mempunyai pengaruh langsung disebut kelompok anggota (membership
groups) kelompok ini ikut serta dalam berinteraksi. Orang juga dipengaruhi oleh
kelompok-kelompok dimana mereka bukan anggotanya, kelompok ini disebut kelompok
aspirasional. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok acuan dari
pelanggan sasaran mereka. Kelompok acuan menghubungkan seorang individu dengan
perilaku gaya hidup baru dan mempengaruhi sikap dan konsep diri karena dia
berhasrat untuk “menyesuaikan diri” dengan kelompok tersebut. Kelompok acuan
menciptakan tekanan untuk keseragaman yang mungkin mempengaruhi pilihan produk
dan merek aktual seseorang. Keluarga merupakan organisai
pembelian konsumen paling penting dalam masyarakat dan para anggota keluarga
menjadi kelompok acuan primer yang paling berpengaruh. Peran dan
setatus peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh
seseorang dan setiap peran akan menghasilkan status.
c. Faktor pribadi.
Keputusan seseorang pembeli juga dipengaruhi oleh
karakteristik pribadi, yaitu usia pembeli dan tahap siklus hidup, pekerjaan,
kondisi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli. Usia
dan tahap siklus hidup orang membeli barang dan jasa yang berbeda
sepanjang hidupnya. Mereka makan makanan bayi saat balita, makan hampir semua
jenis makanan pada saat masa pertumbuhan dan dewasa, dan makanan diet pada masa
tua. Selera orang akan pakaian, perabotan mebel, dan rekreasi juga berhubungan
dengan usia. Pekerjaan pekerjaan seeseorang juga mempengaruhi
pola konsumsinya, seperti membeli pakaian kerja, sepatu kerja, dan tranportasi
bis. Kondisi Ekonomi kondisi ekonomi meliputi pendapatan yang
bisa dibelanjakan, tabungan, dan kekayaan, utang, kemapuan untuk meminjam, dan
sikap terhadap belanja dan menabung. Gaya hidup orang yang
berasal dari subkultur, kelas sosial, dan pekerjaan, yang sama mungkin saja
mempunyai gaya hidup yang berbeda.
2. Proses Psikologis Utama.
Titik awal dalam memahami perilaku konsumen adalah model
rangsangan tanggapan. Pemasaran dan rangsangan merasuki kesadaran konsumen.
Satu perangkat proses psikologis berkombinasi dengan karakteristik konsumen
tertentu untuk menghasilkan proses keputusan pembelian pemilihan pembelian
dipengaruhi oleh empat faktor psikologis yaitu:
a. Motivasi.
Kebutuhan akan menjadi motif jika ia didorong hingga
mencapai level intesitas yang memadai. Seseorang memiliki banyak kebutuhan pada
waktu tertentu. Kebutuhan itu bisa bersifat biogenesis, karena ada tekanan
biologis seperti lapar, haus, tidak nyaman, dan lain-lain. Ada juga kebutuhan
yang bersifat psikogenesis, karena ada tekanan psikologis seperti kebutuhan
akan pengakuan, penghargaan, atau rasa keanggotaan kelompok.
b. Presepsi.
Presepsi adalah proses yang digunakan individu untuk
memilih, mengorganisasi, dan menginterprestasi masukan informasi guna
menciptakan gambaran keseluruhan yang bermakna. Persepsi tidak hanya tergantung
pada stimuli fisik, tetapi juga pada stimuli yang berhubungan dengan sekitar
dan kondisi individu tersebut. Orang bisa memiliki persepsi yang berbeda
terhadap objek yang sama karena adanya tiga proses perseptual: perhatian
selektif, distoris selektif, dan ingatan selektif.
Perhatian selektif artinya, para pemasar harus bekerja keras
dalam rangka menarik perhatian konsumen. Tantangan yang sesungguhnya adalah
menjelaskan rangsangan mana yang akan diperhatikan orang. Walaupun banyak
rangsangan di sekelilingnya, mereka dipengaruhi oleh rangsangan yang tidak
diduga, seperti tawaran tiba-tiba. Para pemasar berusaha mempromosikan tawaran
mereka secara halus supaya bisa melewati saringan perhatian selektif.
Distoris selektif adalah kecenderungan menafsirkan informasi
sehingga sesuai dengan pra-konsepsi kita. Konsumen akan sering melintir
informasi sehingga menjadi konsisten dengan keyakinan awal mereka atas merk dan
produk.
Ingatan selektif, kencederungan kita mengingat hal-hal yang
baik disebutkan tentang produk yang kita sukai dan melupakan hal-hal baik yang
disebutkan tentang produk pesaing itulah kenapa para pemasar menggunakan drama
dan pengulangan dalam mengirim pesan ke pasar sasaran mereka untuk memastikan
bahwa pesan mereka tidak diremehkan.
c. Pembelajaran.
Pembelajaran meliputi perubahan perilaku seseorang yang
timbul dari pengfalaman. Sebagian besar prilaku seseorang adalah hasil dari
pengalaman. Teori pembelajaran mengajarkan para pemasar bahwa mereka dapat
membangun permintaan atas produk dengan mengikatnya pada dorongan yang kuat,
menggunakan isyarat yang memberikan dorongan atau motivasi, dan memberikan
pengukuhan yang positif.
d. Memori.
Pandangan yang paling luas diterima terhadap struktur memori
jangka panjang mencakup beberapa jenis formulasi model asosiatif, sebagai
contoh, model memorijaringan asosiatif memandang LTM terdiri dari satu
perangkat titik simpul dan kaitan penghubung. Titik pertemuan adalah informasi
tersimpan yang ditautkan oleh sambungan yang kekuatannya bervariasi , jenis
informasi apapun dapat disimpan dalam jaringan memori, termasuk informasi
verbal visual, abstrak, dan konteksual. Proses aktivasi yang menyebar dari
titik pertemuan ke titik pertemuan menentukan luasnya perolehan kembali
informasi dan informasi apa yang dapat secara aktual diingat dalam situasi
apapun. Konsisten dengan model memori jaringan asosiatif, pengetahuan merek
konsumen dalam memori dapat dikonseptualisasikan terdiri dari titik pertemuan
dalam memori dengan berbagai asosiasi yang terkait.
Ø Proses memori encoding, memori
merujuk pada bagaimana dan dimana infomasi masuk kedalam memori, dan dapat
dicirikan menurut jumlah atau kualitas pengolahan yang diterima informasi saat
encoding dan sifat atau mutu pengolahan yang diterima informasi pada saat
encoding.
Ø Proses memori mendapatkan
kembali ingatan, merujukan pada bagaimana informasi membangkitkan memori
kita menurut model memori jaringan asosiatif kekuatan asosiasi merek
meningkatkan kemungkinan informasi dapat diakses mauput kemudahan untuk diingat
kembali oleh “aktivitas menyebar.” Ada tiga factor yang sangat penting .
3. Proses pengambilan keputusan membeli.
Proses psikologis ini memainkan peran penting dalam memahami
bagaimana konsumen secara aktual mengambil keputusan pembelian. Pemasaran harus
dapat memahami setiap sisi perilaku konsumen. Proses keputusan pembelian, para
konsumen melewati lima tahap. Namun, para konsumen tidak selalu melewati
seluruh tahap itu dalam membeli suatu produk. Tahapnya yaitu:
a. Pengenalan masalah.
Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenal masalah
atau kebutuhan. Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal
maupun eksternal. Para pemasar perlu mengidentifikasi keadaan yang memicu
kebutuhan tertentu, dengan mengumpulkan informas dari konsumen maka mereka
dapat membuat strategi pemasaran yang mampu memicu minat konsumen dalam
membeli.
b. Pencarian informasi.
Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk
mencari informasi yang lebih banyak, ini terbagi atas dua level rangsangan,
yaitu: penguatan perhatian dan aktif mencari informasi. Penguatan perhatian
orang hanya sekedar lebih peka terhadap informasi. Sedangkan aktif mencari
informasi, seorang konsumen akan mencari bahan bacaan, menelfon teman, dan
mengunjungi toko untuk mempelajari produk tertentu. Yang menjadi perhatian
utama pemasaran adalah sumber informasi, sumber informasi konsumen dapat
digolongkan ke dalam empat kelompok, yaitu: sumber pribadi(keluarga, teman,
tetangga, kenalan), sumber komersial (iklan, wiraniaga, penyalur, kemasan,
pajangan di toko), sumber publik (media massa, organisasi peringkat konsumen),
dan sumber pengalaman (penangan, pengkajian, dan pemakaian produk). Jumlah dan
pengaruh sumber informasi itu berbeda, tergantung pada kategori produk dan
karakteristik pembeli. Melalui pengumpulan informasi, konsumen tersebut
mempelajari merk yang bersaing beserta fitur merk tersebut. Masing-masing
konsumen hanya akan mengetahui sebagian dari merk-merk itu (kumpulan
kesadaran), beberapa merk akan memenuhi kriteria pembelian awal (kumpulan
pertimbangan), ketika seseorang mengumpulkan lebih banyak informasi, hanya
sedikit merk yang tersisa (kumpulan pilihan), kunsumen akan membuat keputusan
berdasarkan kumpulan merk tersebut.
c. Evaluasi alternatif.
Terdapat beberapa proses evaluasi konsumen sebagai proses
yang berorientasi kognitif. Yaitu, model tersebut menganggap konsumen membentuk
penilaian atas produk dengan sangat sadar dan rasional. Konsep dasar dalam
evaluasi konsumen adalah konsumen berusaha memenuhi kebutuhan, konsumen mencari
manfaat tertentu dari solusi produk, konsumen memandang masing-masing merk
sebagai atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda. Evaluasi sering mencermikan
keyakinan dan sikap, melalui belajar orang mendapatkan keyakinan dan sikap
keduanya akan mempengaruhi keputusan pembeli, sikap memempatkan semua itu
kedalam kerangka pemikiran yang menyukai atau tidak menyukai objek tertentu
yang bergerak mendekati atau menjauhi objek tersebut, sikap dapat menghemat
tenaga dan pikiran. Konsumen akhirnya mengambil sikap terhadap berbagai merek
melalui prosedur evaluasi atribut, mereka mengembangkan satu perangkat
keyakinan tentang tempat masing-masing merk berdiri pada setiap atribut. Model
harapan nilai atas pembentukan sikap menyatakan bahwa konsumen mengevaluasi
produk dan jasa dengan mengembangkan keyakinan mereka.
d. Keputusan pembelian.
Dalam tahap evaluasi, para konsumen membentuk preferensi
atas merk yang ada dalam kumpulan pilihan. Dalam melaksanakan maksud pembelian,
konsumen bisa mengambil lima sub-keputusan, yaitu: merk, dealer, kuantitas,
waktu, dan metode pembayaran. Dalam pembelian produk sehari-hari, keputusannya
lebih kecil dan kebebasannya juga lebih kecil. Dalam beberapa kasus, konsumen
bisa mengambil keputusan untuk tidak secara formal mengevaluasi setiap merk.
Dalam kasus lain, faktor-faktor yang mengintervensi bisa mempengaruhi keputusan
final.
Model pilihan konsumen yang non-kompensasi, model harapan
nilai model kompensasi dimana hal yang dianggap baik pada sebuah produk dapat
membantu mengatasi hal yang dirasa buruk. Namun, konsumen mungkin tidak ingin
menghabiskan begitu banyak waktu dan energi untuk menilai merek. Mereka sering
menempuh jalan pintas mental, yang mencakup banyak penyederhanaan warisan
pilihan. Dengan model nonkompensasi pada pilihan konsumen,
pertimbangan atribut positif dan negatif tidak perlu disaring. Mengevaluasi
atribut lebih dalam membuat keputusan menjadi lebih mudah bagi konsumen, tapi
juga meningkatkan kemungkinan orang melakukan pilihan yang berbeda jika dia
lebih lelauasa mengahadapi rincian yang lebih besar. Tiga warisan pilihan
tersebut adalah tersebut adalah:
1. Pada pengalaman konjungtif. Konsumen
menetapkan satu tingkat minimum yang dapat diterima untuk setiap atribut dan
memilih alternatif pertama yang memenuhi setandar minimum untuk semua atribut.
2. Pada pengalaman leksikografik.
Konsumen memilih merk terbaik berdasarkan atribut yang dirasakan paling
penting.
3. Pada pengalaman eliminasi
berdasarkan aspek. Konsumen membandingkan merek pada sebuah atribut yang
diseleksi dengan memperhatikan tingkat pobalitas.
Konsumen tidak harus memanfaatkan satu jenis aturan pilhan
dalam mengambil keputusan. Dalam beberapa kasus, mereka memnfaatkan satu
strategi keputusan berdasarkan fase yang menghubungkan dua atau lebih aturan
keputusan. Ada berbagai macam jenis resiko yang bisa dirasakan konsumen
dalam membeli dan mengonsumsi sebuah produk:
1. Resiko fungsional : produk tidak
berkinerja sesuai harapan.
2. Resiko fisik : produk menimbulkan
ancaman terhadap kesejahteraan atau kesehatan fisik dari pengguna atau orang
lain.
3. Resiko fungsional : produk tidak
bernilai sesuai harga yang dibayar.
4. Resiko sosial : produk menimbulkan
rasa malu terhadap orang lain.
5. Resiko psikologis : produk
memengaruhi kesejahteraan mental dari pengguna.
6. Resiko waktu : kegagalan produk
mengakibatkan biaya peluang karena menemukan produk lain yang memuaskan.
Besarnya resiko yang difikirkan berbeda-beda menurut
besarnya uang yang dipertahankan, ketidak pastian atribut, dan kepercayaan
diri konsumen. Para konsumen mengembangkan rutinitas tertentu untuk mengurangi
resiko, seperti penghindaran keputusan, pengumpulan informasi dari teman-teman,
dan preferensi atas nama merek dalam negeri serta garansi. Para pemasar harus
memenuhi faktor-faktor yang menimbulkan perasaan dalam diri konsumen akan
adanya resiko dan memberikan informasi serta dukungan untuk mengurangi resiko
yang difikirkan itu.
e. Perilaku Pasca Pembelian
Setelah pembelian konsumen mungkin mengalami
ketidak sesuaian karena memperhatikan fitur-fitur tertentu yang menganggu
atau mendengar hal-hal yang menyenangkan tentang merek lain, dan akan selalu
siaga terhadap informasi yang mendukung keputusannya. Komunikasi pemasaran
harus memasuk kayakinan dan evaluasi yang mengukuhkan pilihan konsumen dan
merasa nyaman dengan merek.
a. Kepuasan pasca pembeli
Para konsumen membentuk harapan mereka berdasarkan pesan
yang diterima dari para penjual, teman dan sumber-sumber informasi lainya.
b. Tindakan pasca pembelian
Kepuasan dan ketidakpuasan terhadap terhadap produk akan
memengaruhi perilaku konsuomen selanjutnya. Jika puas, ia akan menunjukkan
kemungkinan yang lebih tinggi untuk membeli produk tersebut.
c. Pemakaian dan pembuangan pasca
pembelian
Satu peluang potensial untuk meningkatkan frekuensi
penggunaan produk adalah ketika persepsi konsumen atas penggunaan mereka berbeda
dari realitas. Konsumen bisa gagal menggantikan produk dengan rentang kehidupan
yang relatif singkat dalam satu cara yang tetap waktu, karena ada kecenderugan
untuk meremehkan kehidupan produk.
4. Teori Lain Tentang Pengambilan Keputusan Konsumen
Proses keputusan konsumen mungkin tidak selalu berkembang
dengan cara yang sudah direncanakan secara cermat. Dan penting untuk
memahami teori dan pendekatan lain terhadap bagaimana konsumen mengambil
keputusan dan kapan keputusan itu dilakukan.
a. Tingkat keterlibatan konsumen
Keterlibatan dan pengolahan aktif yang dilakukan konsumen
dalam menanggapi rangsangan pemasaran, misalnya : dari melihat ikan atau
mengevaluasi satu produk atau jasa.
1. Model kemungkinan
elaborasi. Model yang berpengaruh terhadap perubahan dan pembentukan
sikap, mengganbarkan bagaimana konsumen melakukan evaluasi dalam kelingkungan
keterlibatan, baik yang tinggi maupun yang tendah.
2. Strategi pemasaran keterlibatan
rendah. Banyak produk dibeli pada kondisi rendahnya keterlibatan konsumen
dan tidak adanya perbedaan antermerek yang signifikan, misalnya : garam
3. Prilaku pembelian yang mencari
variasi. Beberapa situasi pembelian ditandai oleh keterlibatan konsumen
yang rendah, tetapi perbedaan antarmerek signifikan.dalam situasi ini, konsumen
sering melakukan peraliahan merek.
b. Heuristik dan bias dalam keputusan
Teori keputusan prilaku telah mengidentifikasikan berbagai
heuristik dan bias dalam pengambilan keputusan konsumen setiap hari. Heuristik
adalah kaidah ibu jari atau jalan pintas mental dalam proses keputusan.
1. Heuristik ketersediaan
Para konsumen mendasarkan prediksi mereka pada cepat dan
mudahnya. Contoh : kegagalan produk terbaru bisa menyebabkan konsumen
terlalu membesar-besarkan kemungkinan gagalnya produk dimasa depan dan
membuat dia lebih cendrung membeli sebuah jaminan produk.
2. Heuristik representatif
Konsumen mendasarkan prediksi mereka pada seberapa
reresentatif dengan contoh-contoh lain.satu alasan mengapa merek-merek yang
berbeda dalam kategori produk yang sama menampilkan kemasan yang begitu mirip
adalah bahwa ingin terlibat sebagai representatif dari kategori tersebut secara
keseluruhan.
3. Heuristik penyesuaian dan panjangkaran
Konsumen sampai pada penilaian awal dan kemungkinan
melakukan penyusaian kesan pertana yang berdasarkan pada informasi tambahan.
c. Akunting Mental
Akunting mental merujuk pada cara yang digunakan konsumen
untuk membuat kode, akunting mental adalah kecendrungan untuk mengkategorisasikan
dana atau butir nilai,walaupun tidak ada basis logis untuk mengkatagorisasian.
1. Konsumen cendrung memisahkan
pendapatan. Ketika penjual memiliki satu produk dengan lebih dari satu
dimensi positif, ada hasrat untuk mengavaluasi setiap dimensi secara terpisah.
2. Konsumen cendrung mengintegrasikan
kerugian. Pemasar mendapatkan keuntungan yang jelas dalam menjual sesuatu
jika biayanya dapat menambahkan pada pembelian lain yang lebih.
3. Konsumen cendrung mengintegrasikan
kerugian lebih kecil pada pendapatan yang lebih besar.
4. Konsumen cendrung memisahkan
pendapatan kecil dari kerugian besar. Prinsip “siver lining” bisa menjelaskan
popularitas rabat pada pembelian besar seperti mobil.
d. Memberikan Profil Pada Proses Keputusan Pemelian
Mencoba memahami prilaku palanggan dalam hubungan dengan
sebuah produk disebut pemetaan sistem konsumsi pelanggan, siklus aktivitas
pelanggan, atau skenario pelanggan. Ini dapat dilakukan untuk kelompok kegiatan
seperti mencuci pakaian (laundry), mempersiapkan acara pernikahan, atau membeli
mobil. Membeli mobil misalnya mencakup keseluruhan kelompok aktivitas, termasuk
memiliki mobil, membiayai pembelian, membeli asuransi, membeli asesoris, dan
lain-lain.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Pembeli akan membeli
barang dari perusahaan yang mereka anggap menawarkan nilai tertinggi yang dapat
dihantarkan kepada pelanggan, dan kepuasan pembeli merupakan fungsi kinerja
yang dipersepsikan produk dan ekspektasi pembeli. Dengan mengenali bahwa kepuasan
yang tinggi menimbulkan loyalitas pelanggan yang tinggi.
2.
Manajemen pemasaran
harus menentukan cara untuk meningkatkan nilai basis pelanggan. Dengan
memaksimalkan nilai pelanggan berarti mengembangkan hubungan pelanggan untuk
jangka panjang.
3.
Dalam
menganalisis pasar konsumen, orang perlu mengetahui penduduk, objek, tujuan
pembeli, organisiai, operasi, peristiwa, dan tempat penjualan. Perilaku pembeli
dipengaruhi oleh 4 faktor utama yaitu, kebudayaan, sosial, pribadi, dan
psikologis. Semuai ini memberikan petunjuk tentang bagaimana melayani pembeli
dengan baik.
4.
Sebelum
merencanakan pemasarannya, suatu perushaan perlu mengidentifikasi konsumen
sasarannya dan proses keputusannya. Tugas pemasaran adalah mengidentifikasi
partisipan pembeli lain, keriteria pembelian mereka, dan pengaruh mereka
terhadap pembeli. Program pemasran harus dirancang untuk menarik dan mendekati
partisipan kunci yang lain seperti halnya pembeli. Jumlah pertimbangan pembeli
dan jumlah partisipan pembelian meningkat seiring dengan semakin kompleknya
situasi pembeli.para pemasar harus merencanakan secara berbeda-beda untuk
keempat perilaku pembelian konsumen: perilaku pembelian komplek, perilaku
pembelian mengurangi ketidak sesuaian, perilaku pembelian menurut kebiasaan,
dan perilaku pembelian mencari variasi. Keempat jenis perilaku ini berdasarkan
apakah konsumen meiliki keterlibatan yang tinggi atau rendah dalam pembelian
dan apakah merek-merek yang ada menujukan perbedaanyang siqnifikan atau tidak.
Tugas pemasaran adalah memahami perilaku perilaku pembeli pada setiap tahap dan
pengaruh apa yang ada. Pemahaman ini memungkinkan pemasaran untuk menyusun
program pemasaran yang efektif dan efesien untuk pasar
B. Saran
1.
Selain meningkatkan
kualitas peroduk, perusahaan juga harus meningkatkan kualitas pelayanan agar
pelanggan merasa puas. Jika pelanggan merasa puas pasca pembelian produk maka
profitabilitas perusahan semakin meningkat, disebabkan karena perusahaan
tersebut memiliki pelanggan yang loyal.
2.
Jika dalam pembahasan
ini terdapat banyak kesalahan dan masih jauh dari yang diharapkan, kiranya
memberikan suatu kritikan agar penulis bisa lebih baik lagi.
youtube - Videodl.cc
BalasHapusyoutube - YouTube.com · VideoDLC: YouTube (Videos) videos. youtube - Videos · Videos · Videos. youtube - Videos · Videos. youtube - Videos. youtube - Videos · Videos. youtube - Videos · Videos. youtube - Videos. youtube - Videos. youtube - Videos. youtube 유튜브 음원 추출 - Videos. youtube - Videos. youtube - Videos. youtube - Videos. youtube - Videos.